MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta


Admin jebidal.com pada kesempatan kali ini akan mencoba membahas tentang MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta

Silahkan langsung Copypaste saja, tetapi baiknya di teliti dulu barang kali ada yang salah ketik baik judul maupun isi postingan MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta, jika sudah yakin silahkan dipergunakan sebagaimana mestinya, jika anda beruntung ada link downloadnya, jangan ragu dan bimbang lansung download saja, semoga blog ini memberi manfaat.

Alangkah baiknya Anda membaca dengan teliti, supaya apa apa yang ada di blog ini bisa bermanfaat, jika hasil dari postingan di blog ini kurang memuaskan, silahkan cari di kotak pencarian [Search Here] atau [Search], kalau tidak salah admin taro di bawah artikel postingan [untuk view handphone/ smartphone atau sejenisnya] dan bagian samping kanan [untuk view via destop/ PC/ Laptop dan sejenisnya], dan semoga hasil dari pencarian blog ini dapat mempermudah Anda dalam menjelajah isi blog jebidal.com ini. selamat berselancar.

Postingan Lainnya yang berhubungan dengan MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta

  • Daftar Lengkap Harga HP Huawei Honor Vision Ascend Terbaru
  • Daftar Harga Handphone Dan Smartphone HTC Android Terbaru Tahun 2015
  • 5 Guru Kejam Di Dunia
  • Alasan Terpilihnya Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa resmi ASEAN
  • Alat Yang Mengubah Nafas Menjadi Suara
  • Sifat Seseorang berdasarkan Bulan lahir
  • Obat Sesungguhnya untuk Penyakit
  • Benarkah Karma itu Ada ?
  • semoga dengan mengunjungi jebidal.com, anda mendapatkan informasi menarik dan dapat bermanfaat bagi anda, dalam situs jebidal.com menitik beratkan pembahasan yang berkaitan dengan pendidikasn, seperti makalah, materi pelajaran, contoh soal ujian dengan jawabannya, contoh skripsi, contoh tesis, dan info menarik serta unik lainnya. Anda sedang membaca postingan yang berjudul MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta
    Admin jebidal.com juga mempermudah pengunjung untuk mendapatkan manfaat dari blog jebidal.com, silahkan jelajahi setiap sudut dari blog ini, semoga menemukan yang Anda cari. Selamat menelusuri blog ini. Anda sedang membaca postingan yang berjudul MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta. Jika Anda ingin mendapatkan update dari blog jebidal.com, silahkan follow twitter @jebidal, ini link langsungnya @jebidal
    Jika Anda lebih suka mainan facebook jangan ragu untuk like fan page jebidal.com ini link langsungnya Jebidal.com on Facebook
    dan jika Anda lebih betah menggunakan akun Gplus Anda, jebidal.com juga punya silahkan follow saja, ini link langsungnya jebidal.com on Gplus

    Mari Kita simak lebih detailnya tentang MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta

    MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta

    Oleh Mulyadhi Kartanegara
    Kata “filsafat Islam” telah lama kita dengar, tetapi apa itu maknanya, lingkup, dan
    pandangannya, sepertinya masih harus kita diskusikan. Oleh karena itu dalam paper ini saya
    ingin mendiskusikan beberapa topik penting, yaitu: (1) Apa itu filsafat Islam? (2) Peran
    filsafat Islam dalam Dunia Modern, (3) Filsafat Islam di Indonesia, dan terakhir (4)
    Menyongsong Masa Depan Filsafat Islam. Dengan ini diharapkan pemahamanan kita tentang
    filsafat Islam dari sudut cita dan fakta bisa menjadi lebih baik dan bermakna.
    1. Apa itu Filsafat Islam?

    a. Adakah yang disebut Filsafat Islam?

     

    Dalam buku saya yang berjudul Gerbang Kearifan, saya mendiskusikan beberapa pandangan
    sarjana tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan
    bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof
    Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang
    mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi
    adalah filsafat Yunani yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh para filosof Muslim.
    Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan
    bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab,
    sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan namanama lainnya seperti filsafat
    dalam dunia Islam.
    Adapun saya sendiri cenderung pada sebutan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan
    setidaknya 3 alasan. Pertama: Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam
    telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang
    menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini,
    sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai
    dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada
    ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para
    filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam
    tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof
    Muslim.
    Kedua, sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adealah pemerhati flsafat asing yang
    kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalanya, maka
    tanpa ragu-ragu mereka mengeritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering
    dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengertik pandangan
    Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan 1menggantikannnya dengan yang lebih baik.
    Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Umar b. Sahlan al-Sawi dan Ibn Taymiyyah,
    juga mengeriktik sistem logika Aristotetles. Sementara al-‘Amiri mengeritik dengan pedas
    pandangan Empedokles tentang jiwa, karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan
    Islam.
    Ketiga, adalah adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi
    antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah
    mengembangkan beberapa isu filsfat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof
    Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, mikraj dsb.
    b. Lingkup Filsafat Islam
    Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah
    dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti
    logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak
    akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini.
    1 Paper ini disajikan pada acara Ulang tahun Paramadina yang ke XX, di Jakaarta, pada tanggal 23
    November 2006
     
     
    Ketika Ibn Sina menulis al-Syifa’, yang dipandang sebagai karya utama filsafatnya, ia tidak
    hanya menulis tentang metafisika, tetapi juga tentang logika, matematika dan fisika. Dan
    ia menulisnya sedeikian lengkap pada setiap bidang tersebut, sehingga kita misalnya
    memiliki beberapa jilid tentang logika, meliputi pengantar, kategori, analitika priora,
    analitika posteriora, topika, dialektika, retorika, sopistika dan poetika. Sedangkan untuk
    matematika, ia menulis beberapa jilid meliputi, aritmatika, geometri, astronomi dan
    musik. Untuk fisika, ia juga menulis beberapa jilid yang meliputi bidang kosmologi, seperti
    tentang langit, meteorologi, kejadian dan khancuran yang menandai semua benda fisik,
    tentang batu-batuan (minerologi), tumbuh-tumbuhan (botani), hewan (zoologi), anatomi,
    farmakologi, kedokteran dan psikologi. Dan sebagai puncaknya ia menulis tentang
    metafisika (al-‘ilm al-ilahi) yang meliputi bidang ketuhanan, malaikat dan akal-akal, dan
    hubungan mereka dengan dunia fisik yang dibahas dalam bidang fisika.
    Pembicaraan tentang lingkup filsafat Islam ini perlu dikemukakan, berhubung banyaknya
    kesalahpahaman terhadapnya, sehingga filsafat Islam dipahami hanya sejauh ia meliputi
    bidang-bidang metafisik. Kebanyakan kita hanya tahu Ibn Sina sebagai filosof, dan hanya
    mempelajari doktrin dan metode filsafatnya. Sedangkan Ibn Sina sebagai ahli kedokteran,
    ahli fisika, atau dengan kata lain sebagai saintis dan metode-metode ilmiah yang
    digunakanaanaya sama sekali luput dari perhatian kita. Jarang sekali, kalau tidak dikatakan
    tidak ada, sarjana filsafat Islam di negeri ini yang pernah meneliti teori-teorinya tentang
    fisika, psikologi, atau geometri, astronomi dan musiknya. Tidak juga kedokterannya yang
    sangat dikenal di dunia Barat berkat karya agungnya al-Qanun fi al-Thibb. Hal ini terjadi,
    menurut hemat penulis, karena selama ini filsafat hanya dipahami sebagai disiplin ilmu
    yang mempelajari hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga fisika, matematika, seolah
    dipandang bukan sebagai disiplin ilmu-ilmu filsafat.
    c. Pandangan Filsafat yang Holistik
    Satu hal lagi yang perlu didiskusikan dalam mengenal filsafat Islam ini adalah pandangannya
    yang bersifat integral-holistik.Integrasi ini, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam
    karya saya yang lain Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik, terjadi pada berbagai
    bidang, khususnya integrasi di bidang sumber ilmu dan klasifikasi ilmu. Filsafat Islam
    mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan hanya pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi
    rasional dan pengalaman mistik. Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai
    sumber-sumber ilmu yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu
    antara metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian juga
    integrasi terjadi di bidang metodoogi dan penjelasan ilmiah. Karena itu filsafat Islam tidak
    hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami
    secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode burhani, untuk meneliti entitasentitas
    yang bersifat abstrak, ‘irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan
    menyaksikan (musyahadah) secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa
    dianalisa lewat akal, dan terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks
    suci, seperti al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui kebasahan
    observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumbersumber
    yang sah dan penting bagi ilmu.
    Hal ini penting dikemukakan, mengingat selama ini banyak orang yang setelah menjadi
    ilmuwan, lalu menolak filsafat dan tasawuf sebagai tidak bermakna. Atau ada juga yang
    telah merasa menjadi filosof, lalu menyangkal keabsahan tasawuf, dengan alasan bahwa
    tasawuf bersifat irrasional. Atau ada juga yang telah merasa menjadi Sufi lalu menganggap
    tak penting filsafat dan sains. Dalam pandangan filsafat Islam yang holistik, ketiga bidang
    tersebut diakui sebagai bidang yang sah, yang tidak perlu dipertentangkan apa lagi ditolak,
    karena ketiganya merupakan tiga aspek dari sebuah kebenaran yang sama. Sangat mungkin
    bahwa ada seorang yang sekaligus saintis, filosof dan Sufi, karena sekalipun indera, akal
    dan hati bisa dibedakan, tetapi ketiganya terintegrasi dalam sebuah pribadi. Namun,
    seandainya kita tidak bisa menjadi sekaligus ketiganya, seyogyanya kita tidak perlu
    menolak keabsahan dari masing-masing bidang tersebut, karena dalam filsafat Islam ketiga
    unsur tersebut dipandang sama realnya.
    2. Peran Filsafat Islam dalam Dunia Modern
    a. Menjawab Tantangan Kontemporer
    Pada saat ini, dalam pandangan saya, umat Islam telah dilanda berbagai persoalah ilmiah
    filosofis, yang datang dari pandangan ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai
    teori ilmiah, dari berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama
    metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak dipandang
    perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace (w. 1827),
    kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi hipotesa.Dan ia
    mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotetsa tersebut, karena alam telah
    bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan
    yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hukukm alam itu
    sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam.
    Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewanhewan,
    karena menurut Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena
    mekanisme alam sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection).
    Menurutnya hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan
    tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan
    engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah agen yang
    cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan telah berhenti
    menjadi pencipta hewan.
    Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941) telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya
    bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan.
    Tuhan, sebagai konsep, muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi
    menghadapi tantangan eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan
    internalnya, ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil
    Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah Masyarakat itu
    sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial yang ada. Dengan demikian
    jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki tempat yang spesial,
    bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah.
    Tantangan yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, rkologi
    dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh kita biarkan tanpa kritik, atau respons
    kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab tantangan-tantangan tersebut secara
    rasional dan elegan, dan tidak semata-mata bersifat dogmatis dan otoriter. Dan di sinilah
    saya melihat bahwa filsafat Islam bisa berperan sangat aktif dan signifikan.
    b. Filsafat sebagai Pendukung Agama
    Berbeda dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan
    bagi agama, saya melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai mitra atau pendukung bagi
    agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan yang gencar dari sains dan
    filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama,
    dengan cara menjawab serangan sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis
    dan rasional. Karena menurut hemat saya tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga
    secara ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa
    Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin bahwa
    Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.
    Selama ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya,
    memang betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam,
    melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar metafisiknya. Tetapi
    kalau kita betul-betul mempelajari filsafat Islam dan mengarahkannya secara benar, maka
    filsafat Islam juga adalag sangat potensial untuk menjadi mitra filsafat atau bahwan
    pendukung agama. Di sini filsafat bisa bertindak sebagai benteng yang melindungi agama
    dari berbagai ancaman dan serangan ilmiah-filosofis seperti yang saya deskrisikan di atas.
    Serangan terhadap eksistensi Tuhan, misalnya dapat dijawab dengan berbagai argumen
    adanya Tuhan yang telah banyak dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari al-Kindi, Ibn
    Sina, Ibn Rusyd dll., seperti yang telah saya jelaskan antara lain dalam buku saya
    Menembus Batas Waktu. Serangan terhadap wahyu bisa dijawab oleh berbagai teori
    pewahyuan yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim dari al-Ghazali, al-Farabi,
    Ibn Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra dll.
     
    Demikian juga serangan terhadap validitas pengalaman mistik dan religius, juga telah
    dijawab secara mendalam oleh Muhammad Iqbal dalam bukunya Reconstruction of
    Religiuous Thought in Islam dan Mehdi Ha’iri Yazdi dalam bukunya The Principle of
    Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Dalam kedua karya ini, Iqbal
    dan Yazdi telah mencoba menjelaskan secara filosofis tentang realitas pengalaman religius
    dan mistik, dan berusaha menjadikan pengalaman mistik sebagai salah satu sumber ilmu
    yang sah. Tentu saja masih banyak hal yang dapat dilakukan filsafat Islam untuk mendukung
    agama, yang tidak pada tempatnya untuk dijelaskan secara rinci di sini.
    3. Filsafat Islam di Indonesia
    a. Masa Lalu
    Filsafat Islam belum begitu dikenal di Indonesia, karena memang filsfat Islam baru
    diperkenalkan ke publik pada tahun 70-an oleh almarhum Prof. Dr. Harun Nasution dalam
    bukunya yang terkenal Falsafah & Mistisime dalam Islam, yang diterbitkan Bulan Bintang
    pada tahun 1973. Dalam buku ini pak Harun telah memperkenalkan 6 filosof Muslim yang
    terkenal yaitu al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, setelah sebelumnya ia
    membicarakan tentang “Kontak Pertama antara Islam dan ilmu pengetahuan serta falsafah
    Yunani.” Dalam buku ini pak Harun dengan singkat tetapi esensial memperkenalkan biografi
    dan ajaran para filosof Muslim tersebut, sehingga para mahasiswa Muslim, khususnya
    mahasiswa IAIN di seluruh Indonesia, telah menyadari keberadaan filsafat Islam yang
    sebelumnya hampir tidak pernah diperkenalkan kepada mereka. Dan dengan dijadikannya
    buku tersebut sebagai buku wajib, maka pak Harun boleh dikata telah berhasil
    memperkenalkan filsafat Islam di Indonesia ini.
    Tetapi karena buku ini merupakan satu-satunya buku yang digunakan dalam matakuliah
    filsafat Islam selama puluhan tahun, maka timbul kesan yang keliru bahwa seakan filsafat
    Islam hanya menghasilkan 6 orang filosof sebagaimana yang diperkenalkan oleh Pak Harun
    di atas. Untunglah pada tahun 1987 Pustaka Jaya telah menerbitkan sebuah buku
    terjemahan yang bagus dan komprehensif tentang filsafat Islam karangan Majid Fakhry yang
    berjudul Sejarah Filsafat Islam, yang diterjemahkan oleh saya sendiri, sehingga dengan
    demikian sadarlah kita bahwa filsafat Islam telah melahirkan bukan hanya 6 filosof,
    sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Pak harun, tetapi puluhan bahkan mungkin
    ratusan para filosof yang tidak kalah hebatnya daripada filosof-filosof yang telah
    diperkenalkan sebelumnya. Buku ini menjelaskan filsafat Islam dari sudut historis, yang
    meliputi paparan tentang perkembangan filsafat sebelum Islam, pada masa awal Islam,
    masa pertengahan dan masa modern. Dan buku ini telah menikmati posisi yang penting di
    universitas-universitas Islam, sebagai buku daras yang tak ada duanya pada saat itu.
    Mahasiswa Muslim sangat diuntungkan dengan kehadiran karya terjemahan ini, karena ia
    telah banyak mengubah persepsi yang keliru tentang filsafat Islam dari sudut lingkup,
    rentangan waktu, ajaran dll. Dengan buku ini pula kita menjadi sadar bahwa ternyata
    filsafat Islam tidak berhenti pada Ibn Rusyd sebagaimana dikesankan setelah membaca buku
    pak harun, tetapi terus hidup dan berlangsung hingga saat ini.
    b. Masa Kini
    Yang saya maksud dengan masa kini, adalah kurang lebih periode sepuluh tahun terkahir
    dari sekarang. Pada saat ini kita telah menikmati banyak informasi tentang filsafat Islam.
    Diterjemahkannya buku yang diedit oleh M.M. Syarif yang berjudul, History of Muslim
    Philosophy secara parsial ke dalam bahasa Indonesia telah memperkaya khazanah filsafat
    Islam di Indonesia. Tetapi tambahan informasi yang sangat signifikan terjedi setelah
    penerbit Mizan menerjemahkan karya besar dalam sejarah filsafat Islam yang diedit oleh
    Nasr dan Oliver Leaman, yang berjudul A History of Islamic Philosophy ke dalam bahasa
    Indonesia, dengan judul Ensiklopedia Filsafat Islam (dua jilid). Berbagai karya filosofis yang
    lebih spesifik (misalnya yang membahas tentang pemikiran para filosof tertentu) juga telah
    diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti The Philosophy of Mulla Sadra yang
    ditulis oleh Fazlur Rahman, yang membahas beberapa aspek dari pemikiran Mulla Shadra,
    atau Knowledge and Illumination, karangan Hussein Ziai, yang membicarakan secara khusus
    filsafat iluminasi Suhrawardi. Namun sejauh ini, informasi ini lebih bersandar pada
    terjemahan dari karya asing, dan bukan karangan sarjana Muslim Indonesia sendiri. Sedikit
    sekali karya filsafat Islam yang ditulis oleh para penulis negeri ini. Ada misalnya buku
     
    tentang Suhrawardi yang ditulis oleh sdr Amroeni, khususnya kritik Suhrawardi terhadap
    filsafat peripatetik,atau yang ditulis oleh M. Iqbal tentang Ibn Rusyd, sebagai bapak
    rasionalisme. Namun tulisan-tulisan tersebut masih bersifat studi tokoh, dan pada dasarnya
    diadaptasi dari sebuah tesis atau disertasi. Tidak banyak penulis Muslim Indonesia yang
    menulis buku pengantar terhadap filsafat Islam yang bersifat independen, kecuali pak
    Haidar Bagir dengan Buku Saku Filsafat Islam-nya, dan saya sendiri dengan Gerbang
    Kearifan-nya.
    4. Menyongsong Masa Depan
    a. Rekonstruksi Filsafat Islam
    Kita pada dasarnya tidak tahu persis apa yang akan terjadi pada filsafat Islam di masa
    depan. Tetapi kita bisa menyongsongnya dengan melakukan beberapa kegiatan yang
    konstruktif bagi masa depan filsafat Islam yang lebih baik. Tetapi terus terang saja saya
    merasa sedih demi memikirkan betapa sedikitnya usaha-usaha dari para sarjana Muslim di
    negeri ini untuk mempersiapkan masa depan filsafat Islam yang lebih baik. Banyak sarjanasarjana
    terbaik Muslim, justru lebih tertarik pada filsafat Barat daripada filsafat Islam
    sendiri. Nah keadaan inilah yang kemudian mendorong saya untuk menulis beberapa karya
    filsafat, bukan saja agar filsafat Islam lebih dikenal, tetapi juga sebagai upaya
    merekonstruksi filsafat Islam agar lebih relevan dengan konteks dan tuntutan masa kini.
    Nah dalam rangka mengkonstruksi pemikiran filosofis inilah maka saya mencoba untuk
    menulis beberapa karya, seperti yang akan saya uraikan berikut ini.
    1). Remapping Filsafat Islam
    Tidak banyaknya buku pengantar filsafat Islam telah menyebabkan banyak ketidakjelasan
    tentang aspek-aspek apa saja yang diliput dalam filsafat Islam. Oleh karena itu saya merasa
    terdorong untuk memetakan kembali (remapping) filsafat Islam, dan untuk itu saya menulis
    sebuah buku pengantar filsafat Islam yang berjudul Gerbang Kearifan. Buku kecil ini
    dimaksudkan untuk memperkenalkan filsafat Islam dalam berbagai aspeknya. Sering buku
    pengantar filsafat Islam bersifat monolitik, dalam arti hanya membahas satu aspek tertentu
    saja dari filsafat Islam, misalnya alirannya saja, sejarahnya saja, atau tokoh-tokohnya saja.
    Tidak banyak buku pengantar yang mencoba mengenalkan beberapa aspek filsafat Islam
    sekaligus. Nah, karena itu saya mencoba dalam karya kecil ini memperkenalkan filsafat
    Islam dalam berbagai aspeknya, seperti aliran-aliran filsafat yang telah dikembangkan di
    dunia Islam, seperti Peripatetik, Illuminasionis, Irfani dan Hikmah Muta’aliyyah. Selain
    aliran-aliran, karya ini juga mencoba mediskusikan beberapa topik penting dalam filsafat
    seperti tentang Tuhan, alam dan manusia. Digambarkan di sini berbagai konsep filosofis
    tentang Tuhan, seperti Tuhan sebagai Sebab Pertama, sebagai Wajib al-Wujud, sebagai
    Cahaya dan juga sebagai Wujud Murni. Kemudian beberapa pertanyaan kritis diajukan
    berkaitan dengan filsafat alam, misalnya, apakah alam dicipta atas kehendak Tuhan atau
    keniscayaan logis? Apakah alam abadi atau dicipta dalam waktu? Apakah alam telah
    ditentukan secara deterministik atau berkembang secara evolutif? Dan apakah alam diatur
    secara langsung oleh Tuhan atau didelegasikan kepada sebab sekunder? Adapun tentang
    manusia, maka dibahas di sini manusia sebagai mikrokosmos, manusia sebagai tujuan akhir
    penciptaan, manusia sebagai theomorfis dan juga disinggung tentang manusia dan
    kebebasan memilihnya.
    Selain aspek historis (dalam bentuk aliran-aliran) dan tema-tema utama, Gerbang Kearifan
    juga membahas tentang hubungan filsafat dan disiplin ilmu lainnya. Misalnya dijelaskan di
    dalamnya, bagaimana hubungan antara filsafat dan sains, filsafat dan agama, serta
    hubungan filsafat dan mistisime atau tasawuf. Dan terkahir buku ini juga membicarakan
    tentang ladang-ladang potensial yang bisa digarap untuk kajian masa depan filsafat Islam.
    Ladang-ladang potensial tersebut antara lain, (1) studi biografis, yang memperkenalkan
    ribuan ilmuan-filosof Muslim, (2) studi gnomologis, yang mencoba membahas berbagai karya
    hikmah yang pernah dibuat oleh para filosof Muslim, (3) sains Islam, yang sangat penting
    dikaji ulang tetapi yang sangat terabaikan, (4) filsafat perenial, yang membahas pemikiran
    dari berbagai pemikir Muslim perenial yang umumnya berasal dari Eropa, yang telah banyak
    menghasilkan karya-karya besar, dan terakhir (5) filsafat paska-Ibn Rusyd, yang akan
    membicarakan perkembangan filsafat Islam setelah masa Ibn Rusyd hingga saat ini. Dengan
    demikian jelas, bahwa Gerbang Kearifan berusaha untuk memetakan kembali seluruh hasil
    pemikiran filsafat Islam dalam suatu kesatuan yang padu.
     
    2) Rekonstruksi Epistemologis
    Problem lain yang dihadapi filsafat Islam pada saat ini adalah tidak jelasnya pada
    kebanyakan pembaca filsafat Islam di negeri ini tentang bangunan epistemologi Islam.
    Banyak kesimpang-siuran yang terjadi dan ketidak-jelasan yang dapat ditemukan di bidang
    yang satu ini. Saya sampai pada kesimpulan bahwa sebuah karya yang khusus di bidang ini
    untuk merekonstruksi bangunan epistemologi Islam perlu ditulis. Inilah yang mendorong
    saya kemudian untuk menulis sebuah karya epistemologi yang berjudul Menyibak Tirai
    Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam. Dalam karya yang terbit pada tahun 2003 ini saya
    mencoba untuk merekonstruksi epistemologi Islam dalam 14 bab. Menurut saya adalah
    penting untuk pertama-tama mengerti betul apa yang disebut ilmu dalam tradisi Islam dan
    bedanya dengan sains. Ilmu dibedakan dengan sains terutama dalam lingkupnya. Sementara
    sains modern membatasi lingkupnya hanya pada bidang-bidang fisik-empiris, ilmu dalam
    tradisi ilmiah Islam meliputi bukan hanya bidang fisik tetapi juga bidang matematik dan
    bahkan metafisik.
    Isu lain yang perlu mendapat perhatian juga berkaitan dengan objek ilmu dan metode
    ilmiah. Dalam filsafat ilmu modern, objek-objek ilmu dibatasi hanya pada objek-objek fisik,
    sedangkan dalam tradisi ilmiah Islam, objek ilmu tidak pernah dibatasi hanya pada objekobjek
    fisik, tetapi melebar pada objek-objek matematik dan metafisik. Namun sebelum
    berbicata tentang objek-objek non-fisik, maka terlebih dahulu perlu didiskusikan tentang
    status ontologis objek-objek non-fisik tersebut, mengingat banyak orang-orang modern yang
    merasa ragu akan keberadaan dan realitas mereka. Bagi para filosof Muslim, semua objekobjek
    ilmu, baik yang fisik maupun yang non-fisik adalah real, dalam arti nyata dan
    memiliki status ontologis yang fundamental. Namun justru karena objek ilmu itu berbedabeda
    dalam sifat dasarnya, maka kita juga harus menemukan beberapa metode ilmiah yang
    berbeda agar cocok dengan jenis dn sifat dasar objeknya. Observasi tentu sja sangat
    berguna untuk meneliti objek-objek yang bersifat fisik tetapi untuk objek-objek yang
    bersifat non-fisik maka kita perlu menggunakan metode lain, seperti burhani dan ‘irfani.
    Demikian juga untuk memhami naskah-naskah suci, seperti al-Qur’an dan hadits diperlukan
    metode lain, yang biasa disebut metode bayani.
    Selain isu-isu di atas, filsafat Islam juga, menurut saya, perlu mendiskusikan tentang
    realitas pengalaman mistik atau religius, karena sikap skeptik dari banyak kalangan
    ilmuwan dan filosof modern terhadapnya. Kita harus bisa menunjukkan secara rasional,
    bahwa pengalaman religus (mistik atau kenabian) adalah real, sama realnya dengan
    pengalaman indrawi. Dan karena itu bisa untuk dijadikan sebagai sumber yang sah bagi
    ilmu, sebagaimana pengalaman indrawi. Selain pengalaman mistik, kita juga perlu
    mendiskusikan realitas pewahyuan dan menjelaskan secara rasional kemungkinan
    pewahyuan seperti yang dialami oleh para Nabi.
    Persoalan lain yang perlu dicermati adalah soal objektivitas ilmu. Sementara ini banyak
    kalangan percaya bahwa sains telah mencapai tingkat objektivitas yang demikian tinggi,
    sehingga bisa berlaku universal dan bebas nilai. Tetapi peneltian yang cermat,
    menunjukkan bahwa objektivitas absolut tidak mungkin bisa dicapai, dan ini terjadi karena
    hasil penelitian ilmiah sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman,
    kecenderungan bahkan ideologi dan kepercayaan dari ilmuwan-ilmuwan itu sendiri. Seorang
    astronom Barat sepeerti Laplace memiliki pemahaman yang sangat berbeda tentang alam
    dari astronom Muslim, seperti al-Biruni. Bahkan ketika Darwin dan Rumi percaya kepada
    evolusi, namun dalam memberikan keterangan tentang apa yang menyebabkan atau
    bertanggung jawab atas terjadinya evolusi tersebut sangat berbeda. Oleh karena itu maka
    menurut saya perlu dirumuskan bagaimana pandangan keilmuan yang cocok dengan ajaran
    fundamental Islam, sehingga diperoleh kemajuan ilmiah, tetapi tidak bertentangan dengan
    kepercayaan agama.
    3). Integrasi Ilmu
    Hal lain yang perlu dikonstruksi ulang adalah soal integrasi ilmu. Dikotomi yang terjadi
    antara ilmu-ilmu agama, di sati pihak, dan ilmu-ilmu umum, di pihak lain telah
     
    menimbulkan berbagai masalah keilmuan yang merugikan. Terjadinya penolakan terhadap
    keabsahan ilmiah dari keduaanya seringkali terjadi. Oleh karena itu perlu sekali dicari jalan
    untuk menjembatani dan mengintegrasikan berbagai aspek keilmuan tersebut dalam suatu
    pandangan yang holistik-integral. Untuk menjawab tantangan inilah, maka kemudian saya
    mencoba merumuskan integrasi ilmu ini dalam karya saya yang lain yang berjudul Integrasi
    Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Maka berbagai aspek integrasi ilmu terus ditelusuri dan
    diteliti. Dari penelitian ini maka dirmuskan bahwa sumber dari segala integrasi ilmu ini
    tidak lain daripada konsep tawhid, yang merupakan ajaran yang paling fundamental dalam
    Islam. Adapun integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum terletak pada kenyataan bahwa
    objek dari kedua jenis ilmu tersebut adalah sama, yakni sama-sama sebagai ayat Allah.
    Ilmu-ilmu agama telah menjadikan al-Qur’an sebagai objek utama penelitiannya, sedangkan
    ilmu-ilmu umum telah menjadikan alam sebagai objek utama, Baik al-Qur’an maupun alam
    dipandang dalam tradisi ilmiah Islam sebagai ayat-ayat Allah, hanya saja yang pertama ayat
    qawliyyah sedangkan yang kedua kawniyyah. Persoalan sebenarnya timbul ketika ilmu-ilmu
    umum berhenti memandang alam sebagai ayat Allah, sementara ilmu-ilmu agama masih
    memandang al-Qur’an sebagai ayat Allah. Menurut hemat saya kalau saja kita bisa
    memandang alam sebagai ayat Allah dalam penelitian ilmiah kita, maka konflik antara
    agama dan sains bisa dihindarkan.
    Selain menemukan titik temu antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, perlu juga
    dirumuskan ulang integrasi di berbagai bidang keilmuan, seperti integrasi objek-objek ilmu,
    integrasi bidang ilmu, sumber ilmu, dan metode ilmiah, dll..Dalam soal integrasi objek
    ilmu, epistemologi Islam tidak membatasi objek ilmu hanya pada objek-objek fisik, tetapi
    juga objek-objek non-fisik, dan ini tentu saja didasarkan pada keyakinan para ilmuwan
    Muslim pada realitas atau status ontologis dari objek-objek tersebut, baik yang fisik
    maupun non-fisik. Dengan diakuinya objek-objek fisik dan non-fisik tersebut, maka mudah
    untuk membayangkan adanya integrasi di bidang-bidang atau cabang-cabang ilmu yang
    berbeda sifat-sifatnya. Maka dalam karya ini saya menunjukkan adanya integrasi antara
    ilmu-ilmi fisika, yang meliputi minerologi, botani, zoologi, anatomi, kedokteran dan
    psikologi, ilmu-ilmu matematika, yang meliputi aritmatika, geometri, aljabar, optik, musik
    dan astronomi, dan ilmu-ilmu metafisik, yang meliputi, ontologi, teologi, kosmologi,
    antropologi dan eskatologi.
    Selain pada objek dan bidang ilmu, integrasi juga perlu dirumuskan dalam kaitannya dengan
    sumber ilmu. Dalam epistemologi Islam, sumber ilmu tidak dibatasi hanya pada persepsi
    inderawi, tetapi juga meliputi penalaran rasional dan persepsi atau pengalaman intuitif,
    dan sekaligus juga wahyu. Sumber-sumber yang berbeda ini, sekalipun dapat dibedakan
    satu sama lain, tetapi tidak dipandang secara terpisah-pisah melainkan dibingkai dalam
    sebuah bangunan yang holistik. Sumber-sumber yang berbeda ini dipandang sama-sama
    sahnya sebagai sumber ilmu, sehingga epistemologi Islam memiliki sumber ilmu yang lebih
    kaya ketimbang epistemologi Barat yang hanya menerima persepsi indrawi sebagai sumber
    yang sah bagi ilmu. Namun integrasi di bidang sumber-sumber ilmu, ini juga harus diikuti
    oleh integrasi di bidang metode ilmiah. Adanya objek-objek ilmu yang berbeda sifat
    dasarnya, menyebabkan ilmuwan-ilmuwan Muslim berusaha membangun berbagai metode
    ilmiah yang berbeda-beda. Karena metode observasi yang biasa digunakan untuk objekobjek
    fisik, tentu saja tidak bisa digunakan untuk meneliti objek-objek akal yang bersifat
    abstrak atau immaterial. Tentu untuk itu perlu dicari metode lain yang tepat untuknya.
    Dengan demikian maka dalam Integrasi Ilmu ini saya mencoba mendiskusikan sekurangnya
    empat macam metode ilmiah yang pernah digunakan oleh para ilmuwan Muslim, yaitu
    tajribi (metode eksperimen), burhani (metode logika demonstratif), ‘irfani (metode
    intuitif) dan bayani (metode hermeneutik, yang digunakan untuk memahami naskah suci).
    b. Reaktualisasi Tradisi Filsafat Islam
    1) Membangun Tradisi Ilmiah Baru
    Upaya rekonstruksi filsafat Islam seperti yang saya lakukan dalam karya-karya di atas,
    tentunya telah memberi sumbangan yang cukup berarti kepada wacana filosofis Islam di
    Indonesia. Namun wacana saja, saya anggap tidak akan betul-betul signifikan bagi
    perkembangan filsafat di negeri ini. Upaya-upaya yang lebih real dan kongkrit harus terus
     
    dilakukan, agar kehadiran dan perkembangan filsafat Islam semakin terasa. Ada setidaknya
    dua upaya yang telah saya lakukan: (1) membangun tradisi ilmiah Islam, dan (2) mendirikan
    pusat kajian dan informasifilsafat Islam.
    Marilah kita mulai dengan yang pertama. Kemajuan yang berati dari ilmu pengetahuan
    nampaknya tidak akan betul-betul tercapai sampai suatu bangsa memiliki tradisi ilmiahnya.
    Barat maju dalam ilmu dan memberi banyak sumbangan kepada peradaban dunia karena ia
    memiliki tradisi ilmiah yang agung. Demikian juga para ilmuwan Muslim pada masa lalu
    telah terbukti secara historis meraih prestasi ilmiah yang sangat gemilang dan memberikan
    sumbangan yang sangat signifikan kepada peradaban dunia, karena mereka memiliki sebuah
    tradisi ilmiah yang mapan dan karakteristik yang berbeda dengan tradisi ilmiah Barat.
    Dengan demikian saya sampai pada kesimpulan bahwa tanpa dimilikinya sebuah tradisi
    ilmiah tertentu, maka bangsa kita tidak akan mencapai prestasi yang gemilang dalam hal
    kemajuan ilmu. Oleh karena itu, upaya yang sungguh-sungguh perlu dilakukan untuk
    membangun sebuah tradisi ilmiah tertentu di negeri ini.
    Namun untuk mampu mendirikan sebuah tradisi ilmiah yang didambakan tidaklah mudah,
    dan kita membutuhkan sebuah model ideal untuk kita tiru. Untuk keperluan itulah maka
    saya mencoba, dalam buku saya yang lain Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, untuk
    memberi gambaran yang gamblang tentang bagaimana sebuah tradisi ilmiah dibangun.
    Tradisi ilmiah Islam saya pilih sebagai model ideal untuk membangun tradisi ilmiah, karena
    pertama tradisi ini lebih cocok kita kembangkan di negeri ini yang berpenduduk mayoritas
    Muslim. Kedua karena tradisi ilmiah Barat telah lama diperkenalkan di sini, dan kita
    membutuhkan sebuah tradisi ilmiah yang baru sebagai alternatif.
    Dalam buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam ini saya mencoba memotret tradisi ilmiah
    Islam dengan gamblang dengan maksud mencari tahu apa rahasia sukses para ilmuwan
    Muslim pada masa kejayaannya, untuk kemudian kita tiru, sehingga terbangunlah sebuah
    tradisi ilmiah yang didambakan. Buku ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan penting,
    yaitu (1) faktor-faktor apa yang telah mendorong pesatnya ilmu pengetahuan di masa
    kejayaan Islam? (2) Lembaga-lembaga pendidikan yang bagaimana yang telah bertanggung
    jawab atas munculnya ratusan ilmuwan Muslim yang agung di berbagai bidang, dan (3) apa
    sistempendidikan yang diterapkan di sana? Selain tiga pertanyaan di atas adalah lagi tiga
    pertanyaan yang tidak kalah fundamentalnya yaitu (4) kegiatan-kegiatan ilmiah apa saja
    yang telah dilakukan para ilmuwan Muslim sehingga mereka telah melahirkan ratusan ribu
    karya ilmiah di berbagai bidang? (5) riser-riset ilmiah yang bagaimana yang mereka lakukan
    sehingga mereka berhasil mengembangkan berbagai disiplin ilmiah, baik yang berkenaan
    dengan ilmu-ilmu agama (naqliyyah) maupun umum (‘aqliyyah) dan terakhir (6) metodemetode
    ilmiah apa saja yang mereka gunakan dalam mempelajarai dan menganalisa
    berbagai objek ilmu yang berbeda-beda jenis dan sifat dasarnya?
    Dari upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka kita kemudian menjadi tahu apa
    yang menjadi kunci sukses mereka. Pertama, faktor-faktor yang mendorong pesatnya ilmu
    pengetahuan pada masa itu adalah (1) dorongan religius di mana agama Islam sangat
    menekankan pentingnya bagi umat Islam untuk menuntut ilmu, dengan menjadikannya
    sebagai kewajiban agama. (2) apresiasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap ilmu,
    ilmuwan dan buku, dan (3) patronasi yang sangat besar dan tulus dari para penguasa dan
    pengusaha terhadap perkembangan ilmu. Sebuah bangsa yang tidak lagi mempedulikan
    kewajiban agama dalam menuntut ilmu, tidak adanya apresiasi yang tinggi terhadap ilmu
    dan tidak ada pengayoman yang serius terhadap dari para penguasa dan pengusaha
    terhadap ilmu, maka di sana sulit dibayangkan ilmu pengetahuan akan mendapat kemajuan.
    Selanjutnya tentang lembaga pendidikan yang di bangun pada masa itu, kita jadi mengenal
    dua jenis lembaga pendidikan. Pertama lembaga pendidikan formal dan yang kedua
    informal. Perdidikan formal berupa madrasah (colleges) yang didirikan para penguasa untuk
    mengajarkan ilmu-ilmu agama. Sedangkan lembaga-lembaga informal meliputi banyak
    jenis: akademi, perpustakaan, rumah sakit, observatorium, dan zawiyyah. Melalui lembagalembaga
    informal ini maka disiplin-disiplin ilmu umum telah dikembangkan dengan baik.
     
    Tentang sistem pendidikan, para ilmuwan Muslim telah mengembangkan metode
    pengajaran yang khusus, yang sangat berpengaruh pada pesatnya perkembangan ilmu, yaitu
    menyalin buku, menghafal dan metode debat yang sangat merangsang daya kritis sang
    murid. Bebarapa poin penting yang saya diskusikan antara lain, motivasi mencari ilmu,
    yaitu untuk mencari kebenaran, dan bukan sekedar untuk mendapatkan pekerjaan seperti
    yang berlaku di negeri ini, menyusun klasifikasi ilmu, sehingga tahu peta ilmu dan saling
    hubungan antara bidang, dan kurikulum, yaitu materi-materi apa saja yang harus dipelajari
    oleh seorang murid.
    Adapun tentang kegiatan ilmiah apa saja yang mereka lakukan, kita kemudian mengenal
    beberapa kegiatan ilmiah yang esensial bagi setiap tradisi ilmiah, yaitu memburu
    manuskrip, menerjemahkan, membuat komentar atas karya-karya orang-orang terdahulu,
    menulis karya-karya orisinal yang bukan saja ekstensif tetapi juga sangan intensif, menyalin
    dan mendistribusi buku, rihlah dan khalwat, sebuah upaya untuk mengeksplorasi dunia fisik
    dan dunia batin, seminar dan diskusi ilmiah baik yang diselenggarakan di lingkungan istana
    atau di tempat kediaman seorang sarjana, melakukan kritik baik yang bersifat ilmiah
    (agama maupun umum), sosial dan politik dn terakhir eksperimen-eksperimen yang
    menyebabkan ilmuwan-ilmuwan Muslim dipandang sebagai perintis metode eksperiman
    dalam kegiatan ilmiah mereka.
    Tentang riset-riset ilmiah yang para ilmuwan Muslim lakukan, kita terperangah akan luasnya
    bidang yang mereka tekuni. Penelitian atau riset yang mereka lakukan ternyata tidak hanya
    ada bidang-bidang ilmu keagamaan sebegaimana yang dikesankan selama ini, tetapi juga
    bidang-bidang ilmu rasional yang melipun ilmu-ilmu fisika, matematika dan metafisika.
    Ribuan karya telah mereka hasilkan dari penelitian tersebut. Terakhir, berkenaan dengan
    metode-metode ilmiah yang mereka gunakan dalam peneliian-penelitian ilmiah mereka.
    Dari sini kita tahu bahwa mereka telah menggunakan berbagai metode yang berbeda, sesuai
    dengan bidang dan objek yang ditelitinya. Maka setidaknya empat metode telah
    teridentifikasa, yaitu, seperti telah disinggung, metode tajribi, burhani, ‘irfani dan bayani.
    2) CIPSI dan Masa Depan Filsafat Islam: Implementasi
    Selain upaya membangun sebuah tradisi ilmiah, seperti yang dibicarakan di atas, gerakan
    yang lebih kongkrit masih perlu dilakukan untuk mengembangkan filsafat Islam di Negeri
    ini. Oleh karena itu, saya dan kawan-kawan bertekad mendirikan sebuah lembaga yang bisa
    mengaktualkan tradisi ilmiah di atas sebagai implementasi dari citia-cita membangun
    sebuah tradisi ilmiah Islam di Indonesia. Oleh karena itulah pada bulan Juli yang lalu, kami
    mendirikan Pusat Kajian dan Informasi Filsafat Islam atau Center for Islamic-Philosophical
    Studies and Information (CIPSI). Sesuai dengan namanya, maka CIPSI bergerak pada dua
    divisi, pertama divisi kajian dan kedua divisi informasi. Divisi kajian meliputi
    penerjemahan, kajian dan diskusi, penelitian dan pengajaran. Sedangkan divisi informasi
    meliputi database, perpustakaan dan penerbitan.
    Sampai saat ini CIPSI baru melakukan beberapa kegiatan ilmiah yang belum seberapa, dan
    belum bisa menggarap semua kegitan kedua divisi di atas. Beberapa kegiatan yang telah
    dilakukan antara lain (1) mengkoleksi buku-buku klasik, (2) mendata biografi dan karyakarya
    para filosof/ilmuwan Muslim (3) menerjemahkan karya-karya terebut dan (4)
    menyelenggarakan beberapa kajian/diskusi baik intern maupun ekstern.
    (1) Koleksi karya-karya ilmiah.CIPSI berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi ilmiah
    Islam, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ilmuwan Muslim. Salah satunya
    adalah mengkoleksi karya-karya kasik. Seperti ilmuwan-ilmuwan masa lalu berusaha keras
    untuk melakukan pemburuan manusikrip, maka CIPSI juga berusaha untuk menghimpun atau
    mengoleksi sebanyak mungkin karya ilmiah yang telah dihasilkan para ilmuwan Muslim dari
    masa klasik, abad tengah dan modern. Hingga saat ini CIPSI telah menghimpun sebanyak
    110 judul (140 jilid/280 copies) dari karya filosofis bererapa filosof terkenal, dari al-Kindi
    hingga Muhammad Taqi Misbah Yazdi. (list karya tersebut dapat dilihat dalam slide
    terpisah). Dengan ini maka CIPSI turut melestarikan karya-karya besar
    filsafat/mistik/teologis yang sulit sekali diperoleh dan terancam punah kalau tidak ada
    usaha-usaha sadar dan terencana untuk melestarikannya.
     
    (2) Proyek Pernerjemahan Serial. Menyadari bahwa orang-orang Indonesia tidak bisa secara
    umum diharapkan dapat mengerti bahasa Arab dengan baik, maka merupakan suatu
    keharusan, dalam rangka mengembangkan filsafat Islam di negeri ini, untuk
    menerjemahkan karya-karya utama tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Sampai saat ini
    CIPSI baru berusaha menerjemahkan sebuah karya inseklopidia dari Ikhwan al-Shafa’ yang
    berjudul Rasa’il Ikhwan al-Shafa’. Karya ini memiliki 4 jilid rata-rata 400 halaman, dan
    diterjemahkan oleh empat orang penerjemah yang masing-masing menerjemahkan satu
    jilid. Jilid pertama dari karya ini membahas tentang matematik (aritmatik, geometri, musik
    dan astronomi), dan juga logika. Jilid kedua membahas tentang fisika (meliputi topik
    materi dan bentuk, ruang, waktu dan gerak), juga tentang minerologi, botani,, zoologi, dan
    astronomi. Jilid ketiga, berkenaan dengan psikologi, dan keempat berkenaan dengan
    agama. Hingga saat ini penerjemahan telah mencapai sekitar 40 %. Adapun karya lain yang
    tengah dipersiapkan untuk penerjemahan berikutnya adalah al-Shifa karya Ibn Sina, yang
    meliputi semua cabang ilmu dan memiliki 10 jilid. Dipilihnya karya-karya yang bersifat
    ensiklopedis ini dimaksudkan sebagai contoh yang kongkrit dari model sains Islam
    sebagaimana yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim dulu bagi orang-orang
    modern.
    (3) Database Biografis dan Bibliografis. Selain kegiatan di atas CIPSI juga telah membuat
    database berkenaan dengan nama-mana para filosof/ilmuwan Muslim, biografi dan karyakarya
    filosofis mereka. Dari pendataan ini, maka hingga saat ini CIPSI telah memiliki daftar
    sebanyak 800 orang filosof/ilmuwan, dan memiliki daftar karya filosofis sebanyak lebih dari
    2000 karya filsfat dalam berbagai cabang ilmu. Tapi jumlah ini itupun baru diidentifikasi
    dari 40 filosof, padahal kita memiliki sekitar 800 filosof, sehingga seiring dengan waktu,
    kita sangat potensial untuk memperpanjang daftar karya ini hingga mencapai puluhan atau
    ratusan ribu karya. Dan karya-karya inilah yang akan kami usahakan mengoleksinya sehingga
    CIPSI diperkirakan akan mengoleksi puluhan atau bahwa ratusan ribu karya filsafat Islam di
    perpustakaannya.
    (3) Kegiatan berikutnya adalah menyelenggarakan kajian-kajian/diskusi/seminar baik yang
    bersifat intern maupun ekstern. Untuk kajian intern CIPSI menyelenggarakan kajian-kajian
    intensif tentang beberapa isu yang hangat dan relevan dengan perkembangan zaman
    seminggu sekali. Sementara ini materi kajian intern diambil dari buku saya yang segera
    akan terbit Nalar Perenial: sebuah Respons terhadap Modernitas. Berbagai isu kontemporer
    didiskusikan, seperti tentang Islamisasi Ilmu, masyarakat madani, posisi wanita, tentang
    evolusi, pengaruh mistisisme atas fisika baru dan tentang etika lingkungan. Diskusi ini
    dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab tantangan-tangan kontemporer dari perspektif
    filsfat Islam. Adapun kajian ekstern, telah dilakukann di Mesjid Baitul Ihsan B.I. dengan
    tema Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Seminar ini dimungkinkan berkat kerjasama CIPSI
    dengan BI. Seminar enam kali pertemuan ini disemarakkan oleh pemikir-pemikir terkemuka
    negeri ini yang menjadi pembanding saya dalam setiap pertemuannya. Beberapa seminar
    juga telah direncanakan dan kerjasama dengan lembaga lain juga telah digalang.
    Selain kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di atas, CIPSI juga telah memetakan bebrapa
    lahan potensial untuk penelitian-pemelitian intensif filsafat Islam di Indonesia di masa
    depan. Dan itu akan meliputi peneltian di bidang biografis, gnomologis, sains Islam, filsafat
    perenial dan filsafat Islam paska Ibn Rusyd. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan ini CIPSI
    akan memberi sumbangan yang signifikan dan menentukan bagi perkembangan dan masa
    depan filsafat Islam di negeri ini. Semoga.
     

     



    Postingan Lainnya;


Terimakasih sudah membaca postingan yang berjudul
Semoga isi dari postingan blog ini bisa bermanfaat, sekali lagi admin jebidal.com ucapkan terima kasih atas kunjungan Anda. Jangan sungkan dan jangan ragu untuk membagikan isi dari blog ini. Silahkan Share Postingan yang membahas tentang MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM: antara cita dan fakta