Model Pembelajaran Lingkungan


Model Pembelajaran Lingkungan
by : Zaenuri Mastur (Drs Zaenuri Mastur SE MSi Akt, a professor of Mathematics and Natural Sciences and Research Center for Environment Secretary Lemlit Unnes)
MELALUI tulisan berjudul “Pendidikan Berwawasan Lingkungan” (SM,9-2-2004), Muhammad Saifuddin dan Mahfudh Djunaidi telah mendeskripsikan berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor serta masalah kekeringan yang selalu menghampiri setiap kemarau. Berbagai fenomena tersebut ditelaah dari dua aspek, perspektif lingkungan dan agama, kemudian ditawarkan alternatif solusinya. Tulisan ini hendak mendiskusikan lontaran alternatif yang disampaikan, khususnya terkait dengan masalah pendidikan.

Meyakini bahwa pendidikan lingkungan (secara formal) merupakan obat mujarab untuk mengendalikan berbagai kerusakan lingkungan, masih memerlukan diskusi yang agak panjang. Berbagai fakta menjadi bukti, penggundulan hutan 2 juta – 2,5 juta hektare per tahun tidak semata-mata akibat ulah perambah hutan, tetapi sebagian besar justru akibat perilaku para pengusaha HPH yang tidak bertanggung jawab. Kita tahu pasti, tingkat pendidikan para pengusaha relatif tinggi.

Hal yang sama terjadi di birokrasi. Pada era otonomi daerah ini, setiap pemerintah berupaya mencari berbagai terobosan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD)-nya. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan untuk menggenjot penerimaan PAD perlu dipikirkan ulang. Pola pikir sesaat, seperti kesediaan sebuah kabupaten diKalimantansebagai tempat pembuangan limbah gunung berapi dari Pemerintah Jepang dengan kompensasi dana Rp 300 miliar – Rp 400 miliar, perlu ditinggalkan.

Untuk memulihkan lingkungan yang rusak diperlukan biaya yang sangat besar. Sebagai gambaran, untuk mengatasi banjir pasang yang diakibatkan amblesnya tanah dan masih bersifat lokal (Semarang) diperlukan biaya sekitar Rp 10 miliar; tidak sebanding dengan besar pajak yang disumbangkan kegiatan-kegiatan fisik (industri, perumahan, dan lain-lain).

Di sisi lain, masyarakat tradisional yang tak bersentuhan dengan pendidikan lingkungan secara formal telah memiliki kearifan lingkungan secara turun-temurun. Kearifan lingkungan yang dikemas dalam bentuk tradisi dapat ditemukan pada tradisi taruban yang berkembang pada masyarakat Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakat dilarang menebang pohon di Hutan Biuk. Jika terpaksa menebang, ia harus menempatkan kaki kirinya di Hutan Biuk, sedangkan kaki kanannya di sungai; sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Petani Jawa mengenal nyabuk gunung untuk mengendalikan erosi; hal yang sama dilakukan oleh petani Sunda dengan istilah ngais gunung.

Tradisi kajang di Sulawesi Selatan memuat prasyarat kewibawaan seorang pemimpin dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kepada para pejabat diajarkan: jika tanaman menjadi, ikan bersibak, air tuwak menetes dan kayu bersemi, air mengalir terus maka engkaulah akan menjadi karaeng terus-menerus.

Pada masyarakat Bali, di samping dikenal subaknya, setiap pekarangan rumah Balidipisahkan menjadi tiga mintakat, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan. Pada mintakat parahyangan ditanam semua tanaman yang berbunga atau tanaman untuk sesaji atau yadnya; dan dibangun sebuah pura sebagai lambang hubungan antara manusia dan penciptanya.

Pada mintakat pawongan ditanam berbagai jenis buah-buahan yang diperuntukkan bagi tamu dan tetangga sekitar, sedangkan mintakat palemahan digunakan untuk menempatkan kandang ternak, kolam ikan, maupun tanaman besar.

Namun keyakinan kedua penulis menyodorkan pendidikan lingkungan sebagai salah satu alternatif dengan mengusung pandangan Prof Dr Koesnadi Hardjosoemantri SH mengenai potret pendidikan lingkungan hidup di Jepang, tetap perlu didukung. Persoalannya, bagaimana model pembelajarannya sehingga pendidikan lingkungan diIndonesiadapat lebih menumbuhkembangkan kesadaran terhadap lingkungan.

Kesadaran Lingkungan

Sebagian siswa SLTP dan SMU yang menggemari petualangan melakukan kegiatan pendakian di berbagai gunung, kemudian menorehkan identitas mereka di pohon-pohon dengan menggunakan pisau, menyemprotkan cat (pilox) di bebatuan dan gua-gua; kemudian membawa pulang beberapa tangkai edelwise sebagai persembangan kepada teman-teman “dekat”.

Sebagian lagi memodifikasi knalpot sepeda motor yang dikendarai sehingga terdengar raungan yang memekakkan telinga dan mengepulkan asap yang memedihkan mata.

Berbagai perilaku siswa yang mengarah pada perusakan lingkungan semestinya dapat dikendalikan karena mereka telah memperoleh materi lingkungan, yang terintegrasikan ke dalam berbagai bidang studi. Di jenjang sekolah dasar, materi lingkungan terintegrasikan ke dalam mata pelajaran IPA dan IPS; demikian juga di jenjang SLTP, materi lingkungan terintegrasi ke dalam mata pelajaran IPA-Biologi, IPA-Fisika, IPA-Geografl, dan IPS-Ekonomi; sedangkan di jenjang SMU, materi lingkungan terintegrasi ke dalam mata pelajaran Biologi dan Sosiologi.

Secara hakikat, hasil sebuah pembelajaran adalah adanya perubahan perilaku. Berbagai fakta menunjukkan, berbagai perilaku siswa yang mengarah pada perusakan lingkungan masih mudah ditemukan. Dengan kata lain, kesadaran lingkungan siswa masih perlu ditingkatkan.

Kesadaran lingkungan memiliki makna kognitif dan afektif. Sadar lingkungan memiliki beberapa arti. Pertama, tahu dan mampu mengekspresikan dampak perilaku terhadap lingkungan. Kedua, tahu dan mampu mengekspresikan tentang berbagai penyelesaian. Ketiga, memahami perlunya langkah penelitian sebagai bekal pengambilan keputusan. Keempat, memahami pentingnya kerja sama dalam menyelesaikan masalah lingkungan.

Berdasarkan pengamatan, pendidikan lingkungan di berbagai jenjang masih bersifat ilmu pengetahuan (education about environment). Para siswa memperoleh berbagai informasi mengenai kerusakan lingkungan, tetapi tampaknya mereka belum mengetahui cara bertindak untuk menyelamatkan lingkungan sesuai dengan kapasitasnya. Pendidikan lingkungan belum mampu mendorong minat, motivasi, dan keterampilan untuk bertindak (education for environment).

Ketidaktahuan cara bertindak merupakan indikator rendahnya kesadaran lingkungan. Priyono (1996: 12) mengemukakan, awarennes of environmental issues means being environmentally knwoledgeable and understanding fhe informed actions required for finding the solutions to the issues.

Persoalan mendesak adalah bagaimana meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan. Secara teknik operasional, bagaimana cara mendorong siswa agar mereka memberikan respons terhadap berbagai informasi kerusakan lingkungan yang diterima.

Pendekatan Kontekstual

Agar kesadaran siswa terhadap lingkungan ini dapat lebih ditingkatkan serta potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang secara optimal, paradigma pembelajaran yang sedang berlangsung perlu disempurnakan, khususnya terkait dengan cara sajian pelajaran dan suasana pembelajaran. Paradigma “baru” ini dirumuskan sebagai: siswa aktif mengonstruksi – guru membantu dengan sebuah kata kunci: memahami pikiran anak untuk membantu anak belajar. Paradigma baru ini dikenal dengan nama pendekatan kontekstual.

Hal ini sejalan dengan pandangan Dirjen Dikdasmen Indra Jati Sidi bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai akademik yang bersifat pemenuhan aspek kognitif, tetapi juga berorientasi pada cara anak didik dapat belajar dari lingkungan, pengalaman, dan kehebatan orang lain, kekayaan dan luasnya hamparan alam sehingga mereka bisa mengembangkan sikap kreatif dan daya pikir imajinatif.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dari suatu konteks ke konteks lain.

Pengalaman awal siswa merupakan material yang sangat berharga. Pengalaman awal ini dapat tumbuh dan berkembang dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar, seperti pengalaman kerja bakti di lingkungan sekolah maupun kampung. Pengalaman siswa yang sangat bermakna ini dapat dikembangkan dalam pembelajaran materi lingkungan hidup.

Dengan layanan guru yang memadai melalui berbagai bentuk penugasan, siswa belajar bekerja sama untuk menyelesaikan masalah (problem-based learning) dan saling menghargai sehingga hubungan antarsiswa akan lebih harmonis. Siswa yang merasa “kurang” dapat belajar bersama-sama siswa yang pandai mengerjakan dan mempertanggungjawabkan proyek yang ditugaskan.

Dengan mengambil latar lingkungan sekolah dapat dirancang berbagai proyek yang berkaitan dengan pembuatan taman, penataan ruang kelas, pembuatan bak sampah, hutan kampus, bahkan pembuatan kompos (bila memungkinkan).

Dengan penugasan di luar kelas melalui proyek, siswa diharapkan akan semakin terlibat dan apresiatif terhadap materi lingkungan hidup yang dipelajari. Dengan pendekatan kontekstual, seorang guru berusaha menunjukkan kepada siswa, betapa materi lingkungan hidup yang dipelajarinya sebenarnya sangat dekat, bahkan berinteraksi secara langsung dengan pengalaman keseharian mereka. Akibatnya, pembelajaran materi lingkungan hidup dapat berlangsung dengan penuh makna , dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan hidup. (18c)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>