Studi Pengintegrasian Nilai-Nilai Kedisiplinan Pada Metode Pemecahan Masalah Terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas X SMA PGRI Sumenep Pokok Bahasan Matriks Tahun Pelajaran 2006/ 2007



Studi Pengintegrasian Nilai-Nilai Kedisiplinan Pada Metode Pemecahan Masalah Terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas X SMA PGRI Sumenep Pokok Bahasan Matriks Tahun Pelajaran 2006/ 2007

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional adalah dengan melakukan reorientasi kurikulum, yang lebih menekankan pada kemampuan peserta didik dalam belajar, yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau disebut pula Competency Based Curriculum sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Hal ini terutama terkait dengan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan” yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional sejak tanggal 2 Mei 2002. Dalam hal ini KBK diharapkan menjadi alternatif peningkatan mutu pendidikan, yang dikelola melalui manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.
Dari kenyataan itulah timbullah pertanyaan mengapa pembelajaran matematika hendaknya mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan yang secara psikologis diisyaratkan untuk belajar matematika. Hal ini ditegaskan pula oleh Hermann Maeir (1995 : 31) bahwa :Berkaitan dengan pembelajaran mata pelajaran matematika, guru harus memperhatikan cara penyampaian materi agar mudah diterima dan benar-benar tertanam pada benak siswa. Karakteristik pembelajaran matematika tidak terlepas dari tujuan pendidikan matematika secara umum, yaitu memberikan kesempatan dan pengalaman kepada siswa untuk meningkatkan kompetensinya sehingga siswa dapat menghargai matematika, mempunyai keyakinan akan kemampuan matematikanya, mampu memecahkan masalah, mampu menggunakan matematika sebagai alat komunikasi, dan belajar bernalar atau berargumentasi. Sehingga dalam proses belajar mengajar perlu disadari bahwa selain pembelajaran harus berawal dari apa yang diketahui siswa dan menarik bagi siswa, pembelajaran matematika perlu menekankan pada pemahaman konsep. Untuk itu pembelajaran hendaknya juga menitikberatkan pada nilai-nilai kedisiplinan agar pemahaman dan keterampilan matematika siswa dalam memperhatikan hakekat dan tujuan konsep atau materi yang diajarkan dapat terwujud.

 

“Psikologis tidak hanya dapat menguraikan persyaratan perkembangan dan pemahaman secara psikologis tentang pelajaran matematika; selain itu dapat juga memberikan petunjuk mengenai berbagai hal yang diperlukan dan lebih kuat mempunyai dasar dalam sifat-sifat perorangan pada pelajar.”

 

 

Berdasarkan masalah di atas, kami mencoba meneliti secara obyektif melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “Studi Pengintegrasian Nilai-Nilai Kedisiplinan Pada Metode Pemecahan Masalah Terhadap Prestasi Belajar Matematika Kelas X SMA PGRI Sumenep Pokok Bahasan Matriks Tahun Pelajaran 2006/ 2007”.

B. Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimanakah penerapan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep?
  2. Bagaimanakah perbedaan prestasi belajar siswa antara kelas yang diajar menggunakan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan kelas yang diajar menggunakan metode konvensional dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep?
  3. Bagaimanakah peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka penelitian tindakan kelas ini mempunyai tujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui penerapan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep
  2. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa antara kelas yang diajar menggunakan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan kelas yang diajar menggunakan metode konvensional dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep.
  3. Untuk mengetahui peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep.

D. Manfaat Penelitian

Melalui hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat berguna dan dimanfaatkan oleh :

  1. Bagi lembaga pendidikan, penelitian ini dapat dijadikan referensi bagaimana membangun inovasi para guru dan siswa sebagai masyarakat pendidikan sekaligus menguatkan lembaga pendidikan untuk mengupayakan terselenggaranya proses belajar mengajar dengan pendekatan berbasis ICT, aktif dan kreatif dalam suasana yang menyenangkan.
  2. Bagi para guru khususnya guru mata pelajaran matematika, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertukaran informasi bagaimana memanfaatkan metode pemecahan masalah yang mengitegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dalam pembelajaran matematika.
  3. Bagi siswa, penelitian ini dapat membuka wawasan baru bagaimana belajar bermakna, penuh semangat dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

E. Penjelasan Istilah
Pada penulisan karya tulis ilmiah ini ada beberapa istilah yang perlu mendapatkan pendefinisian secara tegas agar tidak terjadi kesalahan penafsiran. Oleh karena itu penulis memberikan penjelasan istilah sebagai berikut :

  1. mengemukakan bahwa “pengintegrasian” merupakan suatu usaha untuk menanamkan atau memasukkan hal-hal tertentu ke dalam usaha tertentu agar tecapai sesuatu yang lebih baik.
  2. mengemukakan bahwa “disiplin” merupakan kepatuhan terhadap pengendalian dari luar.
  3. Metode pemecahan masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada cara atau proses bagaimana siswa dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan prosedur yang benar dalam situasi yang berorientasi masalah.
  4. Pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah menitikberatkan pada kedisiplinan siswa dalam aspek metodik pelajaran matematika, diantaranya adalah disiplin mengikuti proses pembelajaran, disiplin menggunakan prosedur pemecahan masalah, dan disiplin dalam menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menitikberatkan pada cara atau proses bagaimana siswa dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan prosedur yang benar dalam situasi berorientasi masalah.

Pemecahan masalah matematika diinterpretasikan sebagai pendekatan, proses, dan tujuan (Suharta, 2002 : 3). Pemecahan masalah sebagai pendekatan dimaksudkan pembelajaran diawali dengan masalah, selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk menemukan dan merekonstruksi konsep-konsep matematika. Pemecahan masalah sebagai proses dimaksudkan siswa belajar bagaimana memecahkan masalah, dan cara yang dilakukan siswa untuk memecahkan masalah mendapat penekanan. Sedangkan sebagai tujuan dimaksudkan siswa diberi kesempatan menggunakan berbagai teknik memecahkan masalah. Walaupun ketiga interpretasi pemecahan masalah tersebut berbeda, akan tetapi dalam praktiknya ketiganya sering tumpah tindih. Pemecahan masalah sebagai proses dan tujuan dapat terintegrasi sebagai pendekatan.

 

Metode pemecahan masalah bertujuan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah. Pembelajaran dititikberatkan pada proses bagaimana siswa dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan prosedur yang benar. Ada beberapa tahapan (sintaks) aktivitas guru dan siswa. Sintaks aktivitas tersebut dijelaskan dalam tabel 2.1 berikut ini :

Tabel 2.1

Tahapan Aktivitas Guru dan Siswa dalam Metode Pemecahan Masalah

Tahap

Aktivitas Guru

Aktivitas Siswa

I

Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, serta memotivasi siswa untuk belajar. Orientasi kepada masalah

II

Membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang sedang dibahas. Organisasi atau menyiapkan diri untuk belajar.

III

Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen agar memperoleh kejelasan dan pemecahan masalah. Mengadakan penyelidikan atau memecahkan masalah secara individu atau kelompok.

IV

Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan atau model, serta membantu siswa membagi tugas dg teman. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya/hasil temuan.

V

Membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan siswa dan proses-proses yang digunakan. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Sumber : Nurhadi, Yasin, Senduk. 2004.

  1. B. Nilai-Nilai Kedisiplinan

Disiplin merupakan suatu hal yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Secara tradisional, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap pengendalian dari luar. Dalam pembelajaran, disiplin bertujuan untuk membantu peserta didik menemukan dirinya, dan mengatasi serta mencegah timbulnya problem-problem belajar, dan selalu berusaha untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi kegiatan pembelajaran, sehingga mereka mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian disiplin dapat membantu peserta didik agar mampu berdiri sendiri (help for self help). Oleh karena itu, penting rasanya jika dalam pembelajaran guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan yang pada akhirnya bertujuan untuk memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dalam hal ini, nilai-nilai kedisiplinan yang harus dikembangkan dalam pelajaran matematika adalah : (1) bagaimana siswa dapat membentuk tanggapan dan sikap positif yang menyiapkan mereka dalam penjelasan dan penggarapan secara aktif dan mandiri dengan matematika, (2) menurut prinsip cara atau metode yang mana perjumpaan siswa dengan matematika itu dapat diberikan bentuknya, (3) bagaimana materi dapat disusun secara sistematis, (4) bagaimana pemberian pelajaran dapat disusun dalam struktur secara formal, (5) bagaimana pelajaran itu dapat diorganisasikan secara sosial, dan (6) bagaimana siswa dapat terbiasa dalam memecahkan masalah matematika sesuai dengan prosedur.

C. Pengintegrasian Nilai-Nilai Kedisiplinan pada Metode Pemecahan Masalah Pokok Bahasan Matriks

Pengajaran materi tentang terapan Matriks dalam pembelajaran konvensional biasanya kurang melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan beberapa konsep untuk memecahkan masalah. Konsep-konsep pemecahan masalah yang terdapat dalam Matriks sekedar ditransfer langsung dari guru ke siswa dan siswa secara pasif menerima konsep-konsep itu. Dalam memecahkan atau menjawab soal-soal yang berkaitan dengan Matriks biasanya guru langsung memberi contoh soal yang diselesaikan secara formal. Misalnya dicontohkan sebagai berikut:

Permasalahan:

Jika A = dan B = . Tentukan AB !

Pembahasan:

Untuk menjelaskan kepada siswa bagaimana menyelesaikan soal tersebut, biasanya guru langsung menyelesaikannya dengan cara yang dibuat sendiri oleh guru sesuai dengan konsep yang ada. Dalam hal ini guru senantiasa memberi langkah pemecahan masalah tanpa memperhatikan apakah siswa mengerti pada masalah yang diberikan serta bagaimana menentukan dan melaksanakan rencana pemecahan masalah. Guru hanya berusaha memberi contoh pemecahan untuk diterapkan pada soal lain yang sama, yaitu :

AB = = =

Adapun siswa menerima secara pasif seluruh informasi keilmuan yang diberikan oleh guru serta tidak dilibatkan secara aktif dalam investigasi dan eksplorasi untuk menemukan pemecahan masalah dengan caranya sendiri.

Berbeda dengan metode konvensional di atas, pembelajaran Matriks dengan metode pemecahan masalah yang megintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan sungguh mengupayakan agar siswa dapat memahami proses dalam memecahkan masalah, bagaimana ia memperoleh, menerapkan cara kerja, mengelola, menilai, dan mendemonstrasikan penyelesaian yang diperolehnya itu. Guru hanya membimbing dan membina keterampilan yang dimiliki siswa sesuai dengan kemampuan atau kompetensi yang dimilikinya dalam melaksanakan tahapan-tahapan pemecahan masalah untuk menemukan jawaban atau pemecahan masalah. Sikap kedisiplinan dalam pemecahan masalah juga menjadi penekanan.

Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang dilakukan oleh guru pada saat berlangsungnya kegiatan pemecahan masalah :

Tindakan guru sebelum siswa memecahkan masalah (mengerti masalah).

    1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah.
    2. Meminta siswa mengungkapkan makna masalah dengan kalimat sendiri.
    3. Meminta siswa menentukan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, informasi apa yang relevan, dan informasi apa yang tidak relevan.
    4. Tindakan guru pada saat siswa memecahkan masalah (menentukan dan melaksanakan rencana).
      1. Guru bertanya kepada semua siswa tentang strategi pemecahan masalah yang kira-kira akan diambil untuk memecahkan masalah.
      2. Guru mengobservasi siswa, dan bertanya kepada siswa yang mengalami kesulitan atau kemajuan.
      3. Guru memberi petunjuk dan menganjurkan kepada siswa agar senantiasa disiplin dalam memecahkan masalah.
      4. Guru memeinta siswa menyampaikan cara-cara pemecahannya.
    5. Tindakan guru setelah siswa memecahkan masalah (memeriksa kembali).
      1. Guru mendorong siswa untuk mengevaluasi strategi pemecahannya.
      2. Guru mencoba untuk memperluas masalah atau jawaban siswa.
      3. Guru mendorong siswa untuk mengaitkan masalah ke masalah lain.
      4. Guru mendorong siswa untuk berpikir reflektif.

 

Dengan diterapkannya metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan sebagai orientasi dalam proses belajar mengajar, maka siswa akan terbiasa dalam mengembangkan kemampuan intelegensi dan keterampilan intelektual serta kompetensi diri dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan disiplin dan terstruktur menurut langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan urutan langkah. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh kompetensi yang diharapkan yang mencakup kemampuan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan.

Ada beberapa perbedaan antara metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan metode konvensional, yaitu :

Tabel 2.2
Perbedaan Metode Pemecahan Masalah Yang Mengintegrasikan

Nilai-nilai Kedisiplinan dan Metode Konvensional

Metode Pemecahan Masalah

(Mengintegrasikan Nilai-nilai Kedisiplinan)

Metode Konvensional

  1. Siswa secara aktif dan disiplin terlibat dalam proses pembelajaran.
  2. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata.
  3. Perilaku dibangun atas kesadaran diri dan kedisiplinan yang tinggi.
  4. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata dan kedisiplinan yang sudah ada dalam diri siswa.
  5. Siswa bertanggungjawab, memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing.
    1. Siswa adalah penerima informasi yang pasif.
    2. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis.
    3. Perilaku dibangun atas kebiasaan.
  1. Rumus harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan.
  2. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

Sumber : Nurhadi, Yasin, Senduk. 2004.

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai obyek penelitian. Kedua kelas tersebut akan mendapat perlakuan yang berbeda dalam pembelajaran Matriks, yaitu pada kelas eksperimen pembelajaran Matriks dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan, sedangkan kelas kontrol pembelajaran Matriks dengan metode konvensional.

Penelitian tindakan kelas ini dirancang melalui pendekatan kualitatif-kuantitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan fenomena secara jelas tentang gambaran yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung dalam tindakan siklus I. Fenomena yang dimaksud yaitu penerapan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan pada kelas eksperimen. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta untuk mengetahui peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa pada tindakan siklus II.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas X semester genap SMAPGRI Sumenep tahun pelajaran 2006/2007. Kelas X-1 merupakan kelas eksperimen yang akan mendapat pembelajaran Matriks dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan, sedangkan kelas X-2 merupakan kelas yang akan mendapat pembelajaran Matriks dengan metode konvensional.

C. Data dan Sumber Data

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dan catatan lapangan. Data kuantitatif diperoleh dari nilai atau skor post test. Sedangkan yang dijadikan sumber data adalah siswa kelas X SMAPGRI Sumenep tahun pelajaran 2006/2007.

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut :

Observasi

Observasi dibantu oleh dua orang observer. Dalam penelitian ini yang menjadi observer adalah guru matematika SMA PGRI Sumenep. Teknik ini digunakan untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran. Pengamatan dalam bentuk lembar observasi untuk mencatat peristiwa-peristiwa yang dianggap penting dalam pelaksanaan tindakan tersebut. Pengamatan dilakukan pada waktu peneliti melaksanakan aktivitas pembelajaran matriks pada kelas eksperimen yang diajar menggunakan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan.

Tes

Tes diberikan dalam bentuk post test setelah pembelajaran selesai untuk pokok bahasan matriks. Post test diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

E. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini, analisis dilakukan peneliti sejak awal, pada setiap aspek kegiatan penelitian. Pada waktu dilakukan pencatatan lapangan tentang kegiatan pembelajaran di kelas, peneliti juga dapat langsung menganalisis apa yang di amatinya, situasi dan suasana kelas, cara guru mengajar, hubungan guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan lain-lain. Data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.

Adapun hasil kualitatif diperoleh dari hasil observasi terhadap proses penerapan pembelajaran matriks dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan. Selanjutnya untuk melihat apakah pembelajaran ini sudah sesuai dengan pembelajaran yang dimaksud, dibuat lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan yang dinilai oleh dua teman sejawat peneliti. Dalam lembar pengamatan ini memuat berbagai aspek yang dinilai dalam rentang nilai 0 – 4. Skor akhir diperoleh dari nilai rata-rata kedua observer. Sehingga semakin besar skor akhir, pelaksanaan pembelajaran semakin mengacu pada pembelajaran dengan metode pemecahan masalah yang mengitegrasikan nilai-nilai kedisiplinan.

Adapun dasar penentuan kategori hasil observasi pengelolaan pembelajaran adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Kategori Hasil Observasi

Interval

Kategori

0 ≤ skor ≤ 1

Kurang Baik

1 < skor ≤ 2

Cukup Baik

2 < skor ≤ 3

Baik

3 < skor ≤ 4

Sangat Baik

 

Secara statistik angka-angka dalam interval dapat dilihat dalam lampiran.

 

Sedangkan hasil kuantitatif diperoleh dari analisis terhadap nilai post test. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji “t” untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol, dan uji “F” untuk mengetahui peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajkar siswa. Agar hasil penelitian yang diperoleh lebih baik, maka sebelum data dianalisis, peneliti ingin memastikan bahwa sebaran data pada sampelnya sudah normal dan homogen, yaitu dengan uji normalitas dan uji homogenitas.

Uji Normalitas

Dalam hal ini, peneliti menggunakan rumus Chi-Kuadrat untuk melakukan pengujian normalitas sampel :

 

 

(Sudjana, 2001:273)

 

Keterangan :

– Oi : frekuensi yang diobservasi (yang diperoleh)

– Ei : frekuensi yang diharapkan

– db : N – 2

– data dikatakan brdistribusi normal jika : X2hitung < X2tabel , dengan a=0,05

Uji Homogenitas

F = varians terbesar

varians terkecil

data dikatakan homogen jika : Fhitung < Ftabel , dengan a=0,05

Setelah dapat dipastikan bahwa data penelitian berdistribusi normal dan bervarians homogen, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis akan membawa kepada suatu kesimpulan untuk menerima atau menolak hipotesis (H0). Dalam hal ini H0 perlu didampingi oleh H1 yang merupakan hipotesis tandingan dengan pernyataan yang berlawanan dengan H0.

Berikut ini penulis akan memaparkan langkah-langkah untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan :

Menentukan hipotesis pada uji “t” sebagai berikut :

    1. H0 : Tidak ada perbedaan prestasi belajar matematika antara kelas yang diajar dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan kelas yang diajar dengan metode konvensional.
    2. H1 : Ada perbedaan prestasi belajar matematika antara kelas yang diajar dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan kelas yang diajar dengan metode konvensional.
    3. Menentukan taraf signifikan atau taraf nyata dengan asumsi a = 5% = 0,05.
      1. Menguji hipotesis alternatif dengan menganalisis data menggunakan rumus :

 

(Arikunto, 1999 : 303)

 

 

Keterangan :

x1 = nilai rata-rata kelas eksperimen

x2 = nilai rata-rata kelas kontrol

n1 = banyaknya sampel pada kelas eksperimen

n2 = banyaknya sampel pada kelas kontrol

S = simpangan baku gabungan (kelas eksperimen)

  1. Jika –thitung < ttabel < thitung, dengan taraf signifikan 5% maka hipotesis alternatif diterima.

Langkah selanjutnya adalah ingin mengetahui ada tidaknya peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa, maka diadakan uji F dengan melalui beberapa tahap :

  1. 1. Membuat persamaan regresi sebagai berikut : Y1 = b0 + b1X1
  2. Merumuskan H0 : “Tidak ada peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa”
  3. Mencari nilai F dengan rumus sebagai berikut :

 

(Sujana, 2002 : 304)

 

  1. Jika F hitung ³ Ftabel , maka H0 ditolak.

 

 

BAB IV

LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Paparan Data Tindakan Siklus I

  1. Perencanaan

Tindakan siklus I ini diberlakukan pada kelas X-1 yang direncanakan berlangsung 4 kali pertemuan atau 8 x 45 menit. Alokasi waktu untuk 1 kali pertemuan terdiri dari tahap pendahuluan 9 menit, tahap kegiatan inti 76 menit dan tahap penutup 5 menit.

  1. Pelaksanaan dan Pengamatan

Tindakan siklus I dilaksanakan pada tanggal 04, 05, 11, dan 12 April 2007. Tindakan siklus I ini dimulai pada pertemuan ke-1 sub pokok bahasan pengertian, notasi, dan ordo suatu matriks, pada tanggal 04 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Pertemuan ke-2 sub pokok bahasan kesamaan dua matriks, pada tanggal 05 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Pertemuan ke-3 sub pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan matriks, pada tanggal 11 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Dan pertemuan ke-4 sub pokok bahasan perkalian scalar dengan matriks, pada tanggal 12 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Pelaksanaan pembelajaran matriks pada siklus I ini, peneliti melaksanakan tahap demi tahap metode pemecahan masalah yang mengitegrasikan nilai-nilai kedisiplinan.

Tahap pendahuluan dimulai dengan peneliti mengucapkan salam dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan dan harapan dari peneliti pada pertemuan tersebut. Peneliti juga menjelaskan sedikit mengenai pembelajaran yang akan dipakai dalam penelitian ini., tujuan pembelajaran, dan memotivasi siswa. Kemudian dilanjutkan pada kegiatan inti yang dimulai dengan mempresentasikan materi, mengatur siswa terlibat dalam pembelajaran, melatih keterampilan pemecahan masalah, membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah, memberi evaluasi, serta membimbing siswa mengerjakan soal dengan benar. Pada kegiatan inti ini, peneliti menitikberatkan pada kedisiplinan siswa dalam aspek metodik pelajaran matematika, diantaranya adalah disiplin mengikuti proses pembelajaran, disiplin menggunakan prosedur pemecahan masalah, dan disiplin dalam menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Tahap selanjutnya adalah penutup dengan membimbing siswa membuat rangkuman, memberi penghargaan dan memberi tugas.

  1. Hasil dan Refleksi

Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh dua orang guru sejawat sebagai observer yang bertugas mengamati setiap proses, pengaruh, kendala dan persoalan lain yang timbul pada saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Dari observasi ini dapat diperoleh berbagai informasi penting dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Informasi yang diperoleh dapat dijadikan bentuk umpan balik bagi peneliti dalam menentukan langkah selanjutnya.

Dalam observasi ini, dua orang observer memberi penilaian terhadap 27 (dua puluh tujuh) aspek yang menjadi tuntutan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nillai kedisiplinan. Hasil observasi untuk penerapan metode tersebut disajikan pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1

Hasil Observasi Tindakan I

Pertemuan ke

Proses Pembelajaran

Observer 1

Ketegori

Observer 2

Kategori

1

2,30

Baik

2,63

Baik

2

2,59

Baik

2,63

Baik

3

2,78

Baik

2,85

Baik

4

2,89

Baik

3,00

Baik

 

Hasil observasi yang tersaji pada tabel di atas, nantinya akan digunakan sebagai acuan dalam membuat refleksi. Refleksi adalah upaya merenungkan kembali suatu tindakan yang telah dicatat saat observasi (Sukardinata, 2005:60). Dalam mengadakan refleksi peneliti selalu berdiskusi dengan kedua orang observer tentang berbagai masalah yang terjadi di kelas dan aspek apa yang belum terpenuhi. Berikut ini disajikan beberapa refleksi yang terkait dengan tindakan siklus I yang merupakan tindak lanjut dari hasil observasi dan catatan lapangan.

 

 

Tabel 4.4

Refleksi Tindakan Siklus I

No.

Sifat

Refleksi

1.

Positif Peneliti bisa mengadakan pemecahan masalah dengan disiplin sesuai langkah-langkah pemecahan.

2.

Negatif Peneliti harus bisa mengembangkan dan menyajikan hasil temuan.

3.

Negatif Peneliti harus mendorong siswa menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah yang dilakukan.

4.

Positif Peneliti aktif memotivasi siswa yang kurang aktif dalam mengikuti jalannya proses pemecahan masalah.

5.

Positif Peneliti mengupayakan siswa memahami masalah, melatih keterampilan berpikir, emndorong kerjasama dalam memecahkan masalah, dan merangsang terlaksananya eksperimen.

 

Dilihat dari hasil catatan lapangan pada tindakan siklus I bahwa masih ada beberapa aspek yang belum dipenuhi dalam pembelajaran dengan metode pemecahan masalah yang mengitegrasikan nilai-nilai kedisiplinan, khususnya terjadi pada saat pertemuan ke-1. Namun berkat kegigihan peneliti dengan bantuan kedua observer, lambat laun aspek-aspek tersebut bisa dipenuhi pada pertemuan selanjutnya.

 

  1. B. Paparan Data Tindakan Siklus II
  1. Perencanaan

Tindakan siklus II ini direncanakan berlangsung 3 kali pertemuan atau 6 x 45 menit. Alokasi waktu untuk 1 kali pertemuan terdiri dari tahap pendahuluan 9 menit, tahap kegiatan inti 76 menit dan tahap penutup 5 menit.

 

  1. Pelaksanaan

Tindakan siklus II dilaksanakan pada tanggal 20, 21, dan 25 April 2007. Tindakan siklus II ini dimulai pada pertemuan ke-5 sub pokok bahasan perkalian matriks, pada tanggal 20 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Pertemuan ke-6 sub pokok bahasan invers matriks, pada tanggal 21 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Pertemuan ke-7 sub pokok bahasan pemakaian matriks, pada tanggal 25 April 2007 pukul 06.45 – 08.15 WIB. Pelaksanaan pembelajaran matriks pada siklus II ini, peneliti melaksanakan tahap demi tahap metode pemecahan masalah yang mengitegrasikan nilai-nilai kedisiplinan sama seperti pada siklus I. namun pada siklus II ini, peneliti lebih memberi penguatan terhadap pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah.

Setelah berakhirnya proses pembelajaran, peneliti memberikan post test kepada kelas X-1. Dalam hal ini post test juga diberikan kepada kelas X-2 yang mendapat perlakuan pembelajaran matriks dengan metode konvensional. Dengan kata lain pada saat peneliti melaksanakan pembelajaran pada kelas X-1 pada siklus I dan II, peneliti juga memberi pembelajaran matriks pada kelas X-2 dengan metode konvensional. Post test dilaksanakan pada tanggal 26 April 2007 Jam 06.45-08.15 WIB. Post test dilaksanakan bersamaan untuk kelas X-1 dan kelas X-2 meskipun dalam tempat yang berbeda. Dalam hal ini, peneliti dibantu oleh seorang guru untuk membantu dalam hal kepengawasan.

 

  1. Hasil dan Refleksi

Berdasarkan hasil post test kelas X-1 (lampiran 4) kemudian diadakan analisis ketuntasan belajar kelas X-1 sebagai berikut :

  1. Perorangan :
    1. Banyak siswa seluruhnya : 25 orang
    2. Banyak siswa tuntas belajar : 23 orang
    3. % siswa yang tuntas belajar : 92,00 persen
    4. Kesimpulan :
      1. Secara klasikal, siswa dinyatakan tuntas belajar dan tidak perlu perbaikan.
      2. Perlu perbaikan individual pada siswa atas nama Suhartini dan Ulfah Anita Asmy.

 

Sedangkan berdasarkan hasil post test kelas X-2 (lampiran 5) kemudian diadakan analisis ketuntasan belajar kelas X-2 sebagai berikut :

  1. Perorangan :
    1. Banyak siswa seluruhnya : 25 orang
    2. Banyak siswa tuntas belajar : 9 orang
    3. % siswa yang tuntas belajar : 36,00 persen
    4. Kesimpulan :

Secara klasikal, siswa dinyatakan tidak tuntas belajar karena prosentase siswa yang tuntas belajar 36,00% sehingga perlu diadakan perbaikan dan remedial.

 

Dari data hasil post test, dilakukan perhitungan uji t (lampiran 7) diperoleh thitung = 6,10 dan ttabel = 1,71. Karena –thitung < ttabel < thitung, (-6,10 < 1,71 < 6,10) dengan taraf signifikan 5% maka hipotesis alternatif diterima. Dengan kata lain ada perbedaan prestasi belajar matematika antara kelas yang diajar dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan kelas yang diajar dengan metode konvensional

Kemudian peneliti melakukan analisa terhadap data post test dengan uji F untuk menentukan hipotesis nol diterima atau ditolak (lampiran 7). Dari hasil perhitungan uji F diperoleh Fhitung = 38,88 dan Ftabel = 4,04. Karena F hitung ³ Ftabel = 38,88 ³ 4,04 maka H0 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa.

Dilihat dari hasil analisis pada tindakan siklus II peneliti melakukan refleksi dan ternyata prestasi belajar siswa yang diajar dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang diajar dengan metode konvensional. Hal ini disebabkan karena ada peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian tentang studi pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar matematika kelas X SMA PGRI Sumenep pokok bahasan matriks tahun pelajaran 2006/2007 ini dapat disimpulkan :

  1. Bahwa penerapan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dalam pembelajaran Matematika Kelas X Pokok Bahasan Matriks di SMA PGRI Sumenep berlangsung baik.
  2. Bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dengan siswa yang diajar dengan metode konvensional.
  3. Bahwa terdapat peranan pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar siswa.

 

B. Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan tentang studi pengintegrasian nilai-nilai kedisiplinan pada metode pemecahan masalah terhadap prestasi belajar matematika kelas X SMA PGRI Sumenep pokok bahasan matriks tahun pelajaran 2006/2007 ini, maka kami sarankan :

  1. Materi penelitian ini hanya terbatas pada pokok bahasan matriks, maka disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengadakan penelitian pada pokok bahasan yang lain.
  2. Seorang guru hendaknya dapat mencari dan memilih metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi peserta didik dan materi pelajaran yang akan disampaikan.
  3. Metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan sangat cocok / sesuai digunakan dalam pembelajaran matematika, khususnya pokok bahasan matriks kelas X SMA, karena mempunyai peranan terhadap prestasi belajar siswa.
  4. Dalam menerapkan metode pemecahan masalah yang mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan, seorang guru hendaknya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk aktif mendapatkan serta mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dengan disiplin menggunakan langkah-langkah yang diberikan.

Incoming search terms:

Comments are closed.